Entah apa yang difikirkan Wim Rijsbergen ketika menerima tawaran melatih timnas Indonesia menggantikan Alfred Riedl. Seharusnya dia tahu apa yang akan dihadapinya, melatih timnas Indonesia adalah tidak mudah. Di tengah harapan tinggi masyarakat Indonesia terhadap timnas setelah menunjukkan permainan yang berkarakter di piala AFF. Asa pecinta sepakbola nasional sangat tinggi terhadap timnas agar bisa lolos dalam pra kualifikasi World Cup 2014 di Brasil.Wim Rijsbergen harusnya mengerti, dia baru di Indonesia dan belum mengenal karakter pemain Indonesia. Enam bulan melatih PSM Makasar yang bertarung di liga primer Indonesia, di mana hanya sedikit pemain timnas yang bermain di liga tersebut belum cukup untuk membuatnya mengenal karakter pemain-pemain utama Indonesia.
Ketika kekalahan demi kekalahan diterima timnas Indonesia, Wim Rijsbergen nampaknya baru menyadari sulitnya membangun timnas Indonesia. Alasan demi alasan dikeluarkan, mulai dari timnas ini bukan pilihannya, tidak disiplinnya pemain, kualitas pemain yang yang kurang, sampai belum dimulainya kompetisi.
Seharusnya dari awal Wim Rijsbergen lebih faham akan apa yang dia hadapi. Timnas Indonesia adalah timnas dengan peringkat FIFA di atas 100, seharusnya dia faham kualitas pemain yang akan dilatihnya. Wim menggantikan Alfred Riedl yang diputus kontrak secara mendadak, dari sini saja seharusnya Wim menyadari bahwa dia tidak akan bisa mendapatkan pemain yang dia harapkan kecuali menerima saja pemain peninggalan Alfred Riedl.
Pra Kualifikasi World Cup 2014 sendiri, sebenarnya akan merupakan ajang penilaian sesungguhnya untuk Alfred Riedl, setelah sukses membuat permainan timnas menjadi berkarakter di piala AFF 2010.Tetapi sayang PSSI membuat blunder dengan memutus kontrak Alfred Riedl secara sepihak.





