16 November 2011

Wim Rijsbergen Harusnya Belajar Kepada Alfred Riedl

Entah apa yang difikirkan Wim Rijsbergen ketika menerima tawaran melatih timnas Indonesia menggantikan Alfred Riedl. Seharusnya dia tahu apa yang akan dihadapinya, melatih timnas Indonesia adalah tidak mudah. Di tengah harapan tinggi masyarakat Indonesia terhadap timnas setelah menunjukkan permainan yang berkarakter di piala AFF. Asa pecinta sepakbola nasional sangat tinggi terhadap timnas agar bisa lolos dalam  pra kualifikasi World Cup 2014 di Brasil.

Wim Rijsbergen harusnya mengerti, dia baru di Indonesia dan belum mengenal karakter pemain Indonesia. Enam bulan melatih PSM Makasar yang bertarung di liga primer Indonesia, di mana hanya sedikit pemain timnas yang bermain di liga tersebut belum cukup untuk membuatnya mengenal karakter pemain-pemain utama Indonesia.

Ketika kekalahan demi kekalahan diterima timnas Indonesia, Wim Rijsbergen nampaknya baru menyadari sulitnya membangun timnas Indonesia. Alasan demi alasan dikeluarkan, mulai dari timnas ini bukan pilihannya, tidak disiplinnya pemain, kualitas pemain yang yang kurang, sampai belum dimulainya kompetisi.

Seharusnya dari awal Wim Rijsbergen lebih faham akan apa yang dia hadapi. Timnas Indonesia adalah timnas dengan peringkat FIFA di atas 100, seharusnya dia faham kualitas pemain yang akan dilatihnya. Wim menggantikan Alfred Riedl yang diputus kontrak secara mendadak, dari sini saja seharusnya Wim menyadari bahwa dia tidak akan bisa mendapatkan pemain yang dia harapkan kecuali menerima saja pemain peninggalan Alfred Riedl.

Pra Kualifikasi World Cup 2014 sendiri, sebenarnya akan merupakan ajang penilaian sesungguhnya untuk Alfred Riedl, setelah sukses membuat permainan timnas menjadi berkarakter di piala AFF 2010.Tetapi sayang PSSI membuat blunder dengan memutus kontrak Alfred Riedl secara sepihak.







Masyarakat Menghukum PSSI

Menyaksikan pertandingan Indonesia melawan Iran dari layar kaca, saya sangat terkejut menyaksikan tribun penonton yang kosong. Memang sudah diperkirakan penonton tidak akan seramai seperti ketika pertandingan sebelumnya melawan Qatar dan Bahrain, tapi tidak pernah terbayang sampai sesepi ini. Sepanjang ingatan saya, inilah pertandingan timnas yang paling tidak diminati oleh pecinta sepakbola Indonesia.

Petinggi PSSI harusnya segera mawas diri, introspeksi menghadapi kenyataan ini. Jika PSSI tidak ingin ditinggalkan oleh penonton, maka harus segera memperbaiki diri. Prestasi diraih, kompetisi berjalan dengan baik, pembinaan pemain muda dilakukan. Jika itu dilaksanakan maka animo penonton akan datang dengan sendirinya.

Pendapat saya pribadi, sepinya penonton merupakan akumulasi kekecewaan penonton terhadap PSSI. Setelah pergantian pengurus PSSI dari Nurdin Halid ke Djohar Arifin, masyarakat sangat berharap di bawah pimpinan beliau PSSI akan menjadi lebih baik. Akan tetapi, beliau malah melakukan blunder terhadap timnas dengan mengganti pelatih dari Alfred Riedl ke Wim Rijsbergen yang menyebabkan penurunan permainan timnas. Blunder lainnya yaitu merubah sistem kompetisi dengan memaksakan masuknya 6 klub ke level utama kompetisi yang akhirnya menyebabkan perpecahan diantara klub-klub.

Saya sebagai pecinta sepakbola nasional, sangat miris terhadap situasi ini. Pemerintah dalam hal ini MENPORA yang diharapkan bisa memperbaiki keadaan ternyata lepas tangan. Dulu ketika Arifin Panigoro membuat liga tandingan LPI, dan PSSI di bawah pimpinan Nurdin Halid menganggapnya liar dan menghukum yang terlibat dalam liga tandingan tersebut,  beliau sangat membela  liga tandingan tersebut. Tapi kini, ketika beberapa klub ingin menyelenggarakan liganya sendiri karena PSSI telah melanggar aturan, MENPORA malah membela PSSI dan tidak akan mengizinkan pertandingan yang bukan liga resmi. Sungguh mendua,

Saya tidak tahu ada apa antara MENPORA dengan PSSI yang dulu, tapi yang jelas saya dan masyarakat pecinta bola nasional sudah lelah dengan ini semua. Pertandingan Indonesia melawan Iran kemarin adalah buktinya, masyarakat menghukum PSSI.

 

21 Oktober 2011

Ketika Wim Rijsbergen Marah

Sesudah kekalahan Indonesia dari Bahrain 2-0 dalam penyisihan Pra Piala Dunia 2014 Brasil, tersebar berita di media, baik cetak atau online, bahwa Wim Rijsbergen marah besar kepada pemain. Bahkan menurut media, walaupun ini belum tentu benar karena ketika dikonfirmasi ke pemain tidak ada pemain yang mengaku mendengar Wim mengatakannya, bahwa Wim sampai mengeluarkan kata kasar kepada pemain ketika istirahat babak I. Dalam wawancara pers sesudah pertandingan Wim mengatakan bahwa ini bukan tim pilihannya dan mereka tidak siap bertanding dalam level ini, dan untuk pertandingan selanjutnya dia akan mencari pemain baru.

Dalam pandangan saya sebagai seorang guru, saya dapat memahami kenapa Wim Rijsbergen marah besar. Dalam pertandingan Indonesia melawan Bahrain terlihat jelas bahwa pemain Indonesia tidak menampilkan permainan terbaiknya. Ketika melawan Iran di Tehran, walaupun kita kalah 3-0 permainan kita lebih baik.

Terlepas pantas atau tidaknya komentar Wim yang terkesan menyalahkan pemain dalam wawancara pers, apa yang dikatakan Wim adalah benar. Timnas ini adalah peninggalan dari Alfred Riedl. Walaupun saya menyangsikan apakah Wim bisa menemukan pemain yang lebih baik dari yang ada ini kalau Wim memang benar berniat mencari pemain baru. Seorang guru/pelatih tahu kapsitas muridnya, ketika Wim mengatakan pemain Timnas tidak siap bertanding di level ini, Wim mengatakan sejujurnya.

Menurut saya apa yang terjadi sesudah pertandingan Indonesia melawan Bahrain adalah hal yang wajar. Media saja yang terlalu membesarkan. Kita harus realistis, timnas kita memang belum selevel dengan negara-negara seperti Arab Saudi, Bahrain, apalagi dengan jepang atau Korea.

Namun, melihat pertandingan Timnas ketika melawan Turkmenistan, Iran, Arab Saudi dan Qatar. Saya yakin tidak akan lama lagi level permainan Timnas kita akan meningkat. Sekarang tinggal PSSI sebagai induk organisasi sepakbola membuat kompetisi yang kompetitif untuk para pemain kita.


14 Oktober 2011

Kenapa Wim Rijsbergen Lebih Banyak Mencatat Ketika Timnas Bertanding?

Buat pecinta Tim Nasional PSSI pasti memperhatikan gaya pelatih Wim Rijsbergen ketika mendampingi Timnas bertanding. Kalau saya baca dari komentar-komentar di detik, viva, atau kompas banyak sekali yang mengkritik gayanya yang hanya duduk di bangku cadangan dan sibuk mencatat, tak ada arahan sama sekali kepada pemain. Kalaupun ada arahan, itu dari asisten pelatih.

Buat teman-teman pecinta Tim Nasional PSSI pasti ingin tahu kenapa gaya pelatih Wim seperti itu. Jawabannya adalah karena hal itulah yang benar. Ketika suatu pertandingan sudah berjalan, peran pelatih sudah hilang. Pemain lah yang berperan untuk menjalankan strategi pelatih. Ketika permainan tidak sesuai harapan pelatih atau kita yang menonton, tidak ada yang bisa dilakukan pelatih. Hal yang paling mungkin dilakukannya adalah dengan memasukkan pemain baru atau mengganti strategi permainan.

Jadi buat teman-teman pecinta Tim Nasional PSSI, jangan ragukan kualitas Wim Rijsbergen. Awalnya ketika saya melihat gaya Wim mendampingi Timnas, saya juga kecewa. Tapi setelah membaca artikel-artikel kepelatihan dalam sepakbola, saya baru tahu dan sadar memang seperti itulah seharusnya pelatih bersikap ketika mendampingi timnya bertanding. Mencatat kekurangan dan kelebihan tim untuk perbaikan ke depannya.

Tak ada gunanya berteriak di pinggir lapangan kepada pemain. Yang ada pemain menjadi terbebani dan mungkin malah bermain semakin buruk. Ketika pelatih berteriak di pinggir lapangan adalah untuk menyemangati pemain atau untuk mengganti strategi.




10 Oktober 2011

Masyarakat Agar Mengawasi Rehabilitasi Sekolah

Rencana rehabilitasi ribuan sekolah oleh pemeritah memerlukan dukungan dari masyarakat. Demikian dikatakan oleh Mendiknas Muhamad Nuh, Senin 3 Oktober 2011 di SDN Babakan Madang 01 Sentul jawa Barat dalam acara peletakan batu pertama gerakan nasional rehabilitasi SD-SMP.

Dukungan dari masyarakat sangat diperlukan agar pelaksanaannya tepat sasaran dan manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. Lebih jauh Mendiknas mengatakan bahwa dalam pelaksanaanya nanti, rehabilitasi ini akan dibantu oleh TNI. Dalam pengawasannya akan memakai kurva s. Dengan sistem ini akan diketahui perkembangan dari pembangunan secara cepat tanpa harus turun langsung ke lapangan.

06 Oktober 2011

Sistem Kepelatihan Sepakbola di Amerika

Beberapa hari ini, entah kenapa ingin banget mau jadi pelatih sepakbola. Jadi googling deh. Tapi tenyata tidak semudah yang dibayangkan. Website pssi sebagai organisasi sepakbola tidak bisa diakses. Coba cari pssi provinsi sama saja, malah tidak punya website. Dan akhirnya malah ketemu dengan pssi-nya amerika, australia, dan inggris.

Yang menarik adalah Sistem kepelatihan di Amerika sana. Di sana, pssi-nya amerika yaitu USSF bekerjasama dengan asosiasi pelatih untuk menyelenggarakan kursus kepelatihan. Ada tiga organisasi kepelatihan yaitu NSCAA, AYSO, USYSA.

Level kepelatihannya sendiri dimulai dari level E, D, C, B, dan A. Level E dan D diselenggarakan oleh USSF negara bagian atau PSSI Provinsi, sedangkan level C, B, dan A diselenggarakan oleh USSF pusat langsung.

Yang sangat menarik adalah, kemudahan untuk menjadi pelatih. Siapapun yang mau bisa mengikuti kursus-kursus yang diadakan. Untuk orangtua bisa mengikuti kursus kepelatihan untuk anak-anak di bawah 12 tahun, tidak ada tes kelulusan semua akan mendapat sertifikat. Bahkan untuk mengikuti kursus pelatih level E pun tidak ada syarat apapun, hanya saja direkomendasikan telah mengikuti kursus pelatih untuk anak dibawah 12 tahun (level sekolah dasar)

Sepakbola di amerika sana (dan hampir semua olahraga) terutama berkembang melalui kompetisi antar sekolah. Anak-anak level TK (5 tahun) mulai dikenalkan dengan sepakbola, dan seterusnya hingga sampai perguruan tinggi.

Di Indonesia sendiri, ide untuk menyelenggarakan Liga Pendidikan Indonesia sangat bagus.  Tinggal bagaimana membuat Liga itu lebih baik, dan yang paling penting adalah bagaimana membuat sistem kepelatihan yang baik dan bisa diikuti oleh semua orangtua dan relawan-relawan yang ingin berkecimpung di kepelatihan sepakbola.

30 September 2011

Tony Buzan: "Semua Anak Cerdas"

Tony Buzan seorang penulis dan konsultan pendidikan serta penemu metode mind mapping datang ke Jakarta sebagai pembicara dalam seminar How Smart Parents Make Smart Kids.  Acara yang berlangsung di Auditorium kemendiknas tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Qolbun Salim dan Kemendiknas pada hari minggu 25 September yang lalu.

Tony Buzan menyoroti peran orangtua sebagai guru pertama dan terpenting yang dimiliki oleh seorang anak. Selain itu ia juga menyoroti banyaknya guru yang melakukan pelabelan terhadap muridnya. Ia mengatakan, riset yang ia lakukan bertahun-tahun menunjukkan bahwa semua anak cerdas. Tugas kita sebagai orangtua dan guru untuk menemukan kecerdasan tersebut.

29 September 2011

Peraturan Mengenai Biaya Pendidikan

Menteri Pendidikan Mohammad Nuh mengatakan, ia akan mengeluarkan peraturan mengenai biaya pendidikan. Aturan ini dikeluarkan karena dari survey yang dilakukan, masih banyak sekolah di jenjang pendidikan dasar yang memungut biaya dari orang tua murid. Walaupun sudah ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah).

Peraturan ini akan dilaksanakan pada tahun 2012 pada saat tahun ajaran baru dimulai. Peraturannya saat ini sedang dibuat dan akan selesai pada akhir tahun ini. Peraturan ini nantinya akan mengatur dan menjadi pedoman pembiayaan di sekolah mulai dari jenjang Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.